Friday, 24 May 2013

ANTONIN PANENKA : PUJANGGA DARI PRAHA

Malam itu kota Praha dua orang laki - laki berhadap - hadapan di Stadion FK Crvena Zvezda. Tak kurang dari 30.000 pasang mata menatap mereka. Dua orang laki-laki itu adalah Sepp Maier dan Antonin Panenk. Dua orang ini sedang mempertaruhkan nasib negaranya, Jerman Barat da Cekoslovakia.

Sepp Maier yang berdiri di bawah mistar gawang, menjadi tumpuan Jerman Barat untuk mencatat rekor dalam sepak bola Eropa. Jerman Barat berstatus sebagai juara bertahan di ajang Euro 1976. Pada penyelenggaraan sebelumnya tahun 1972 mereka keluar sebagai pemenang. Jika mampu memngangkat trofi Henry Delauney sekali lagi, maka Jerman Barat akan menjadi negara pertama yang mampu mejuarai Piala Eropa dua edisi berturut-turut.

Antonin Panenka berdiri di pinggir kotak pinalti. Ia menjadi penendang terakhir Cekoslovakia dalam adu pinalti di partai puncak Piala Eropa 1976. Sebagai penendang terakhir, Panenka mempunyai beban lebih, apalagi timnya dipaksa melewati babak adu pinalti setelah Jerman Barat berhasil mengejar ketinggalan dua gol di waktu normal. Namun ia sedikit diuntungkan dengan gagalnya Uli Hoeness menjalankan tugasnya sebagai penendang pinalti Jerman Barat. Panenka mengambil ancang-ancang mundur ke belakang. Di titik putih si kulit bundar diam menanti sepakan kakinya. Lawan duelnya malam itu, Sepp Maier memperhatikan tiap langkah Panenka dengan seksama.



Wasit memberi aba-aba untuk melakukan tendangan. Panenkan berlari masuk ke kotak pinalti. Ia terlihat akan mengarahkan bola ke arah sisi kiri gawang Sepp Maier. Beberapa saat sebelum kaki Panenka menyentuh bola, Sepp Maier melompat ke sisi kiri. Berharap pria berkumis tebal tersebut mengarahkan bolanya ke arah sisi kiri bawah. Namun Panenka memiliki ide sendiri. Ia tidak menendang bola dengan keras, tak juga mengarahkannya ke pinggir gawang. Ia memilih untuk menyentuh bola dengan punggung kakinya, mengarahkannya ke tengah gawang. Bola tendangan Panenka melaju pelan. Sepp Maier yang terlanjur melompat ke arah kiri bawah hanya bisa melihat bola bergerak parabolik melewaati garis gawang. Goooollll !!! Panenka bersorak, rekan-rekannya menhampirinya. Malam itu Panenka mencatatkan sejarah. Cekoslovakia untuk pertama kalinya menjadi juara eropa mengalahkan sang juara bertahan Jerman Barat di partai final. Sebuah prestasi yang luar biasa mengingat pada waktu itu Jerman Barat dianggap sebagai tim terbaik di dunia. Juara Eropa sekaligus juara dunia.

Gol pinalti di partai Final Euro 1976 ini dikenang sebagai salah satu momen bersejarah dalam sepak bola eropa. Gol itu menandai lahirnya tedangan Panenka. Tendangan pinalti yang memiliki daya magis mengecoh penjaga gawang. Tendangan pinalti yang kemudian hari ditiru oleh pemain-pemain seperti Zinedine Zidane dan Andrea Pirlo.

Momen tersebut mengangkat nama Antonin Panenka, menjadikannya sebagai salah satu legenda sepakbola eropa. Jika dibanding legenda eropa lainnya nama Antonin Panenka memang relatif kurang terdengar. Ia menghabiskan sebagian besarnya karirnya di klub Bohemians Prague, klub kota kelahirannya. Sistem transfer ketat yang diberlakukan oleh pemerintah komunis  Cekoslovakia menuatnnya harus puas menghabiskan masa keemasannya di Bohemians. Baru di usia 32 tahun Panenka memiliki kesempatan untuk mencoba peruntungannya di luar negeri. Berusia 32 tahun dan tak pernah bermain di luar Cekoslovakia membuat Panenka harus puas bermain di Austria, bersama Rapid Vienna. Di Rapid Vienna Panenka berhasil meraih dua gelar Bundesliga Austria. Bersama klub ibu kota Austria ini pula Panenka mencapai final Winners Cup 1985. Panenka sendiri saat itu berada dalam puncak permainannya dan disebut sebagai salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Cekoslovakia. Ia memiliki passing akurat dan mampu membaca permainan dengan baik. Teknik tendangan bebasnya pun dianggap yang terbaik. Sayang, peraturan ketat pemerintah Cekoslovakia menghalanginya mengadu nasib ke klub besar.

Banyak orang yang menganggap pinalti Panenka adalah pinalti yang jenius. Seorang jurnalis asal Perancispernah menyebut pinalti Panenka tersebut sebagai sebuah puisi dengan Antanin Panenkan sebagai pujangganya. Penyebutan yang menarik jika kita melihat proses dan kerja keras Panenka dalam menciptakan pinalti tersebut. Sebagaimanan layaknya puisi, pinalti Panenka pun lahir melalui proses kreatif dari penciptanya. Proses kreatif yang bermula dari rasa frustasi di kamp Bohemians. Seusai sesi latihan di markas Bohemians, Panenka biasanya melanjutkan dengan berlatih tendangan pinalti bersama penjaga gawang Zdenek Hruska. Untuk membuatnyamenjadi menarik mereka biasanya bertaruh dengan bir atau coklat untuk setiap tendangan. Sayangnya Panenka lebih banyak mengalami kekalahan. Baginya Zdenek Hruska terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Setiap sesi latihan ia harus rela kehilangan sejumlah uang untuk setiap pinalti yang gagal. Panenka menjadi susah tidur layaknya pujangga yang dirudung perasaan galau. Malam – malam ia sering melamun dan memikirkan bagaimana caranya menaklukkan Hruska dalam sesi latihan. Hingga ia menyadari bahwa setiap penjaga gawang selalu melakukan hal yang sama. Penjaga gawang selalu menunggu hingga saat terakhir sebelum penendang menyentuh bola. Hal ini memungkinkan penjaga gawang untuk mengantisipasi lebih tepat.

Hal ini menginspirasi Panenka untuk membuat sebuah eksperimen. Ia akan berpura-pura menembakkan bola namun di saat terakhir ia hanya melambungkan bola ke tengah dengan sentuhan ringan. Penjaga gawang yang menunggu sampai saat – saat terakhir akan terlanjur melompat dan mati langkah. Eksperimen tersebut berhasil di sesi latihan Bohemians. Ia tak lagi harus mentrakktir Hruska karena kegagalanya menendang pinalti. Sebaliknya, gantian Hruskayang mentraktirnya coklat dan bir. Keberhasilan eksperimen pinaltinya tak hanya disimpan dalam sesi latihan saja. Panenka berniat mencobanya di ajang resmi. Awalnya ia mencoba pinalti tersebut di beberapa laga persahabatan. Kemudian berlanjut ke liga Cekoslovakia. Hingga ia bertekad akan mencoba tendangan pinalti tersebut jika ia mendapatkan kesempatan di Euro. 

Keputusan Panenka terbukti tepat. Meski beresiko tinggi, namun pinaltinya berhasil membawa Cekoslovakia keluar sebagai juara Eropa 1976. Hingga saat ini, orang masih menganggumi keberanian Panenka melakukan pinalti tersebut. Untuk mengambil tendangan pinalti di partai puncak saja tak semua pemain sanggup melakukannya, apalagi jika menggunakan teknik baru. Keberanian Panenka inilah yang menjadikannya legenda Eropa. Ia memang tak pernah bermain di klub besar serperti Real Madrid atau Bayern Muenchen. Namun keberaniannya menendang pinalti dengan teknik baru membuat namanya layak disejajarkan dengan Franz Beckenbauer dab Michel Platini.

Kini tendangan pinaltinya banyak diikuti, tak hanya pemain top Eropa yang mencoba teknik pinaltinya. Anak – anak kecil di sudut kota Praha pun turut memperagakannya. Antonin Panenka mungkin bukan pemain dengan jumlah trofi terbanyak pada masanya. Namun tendangan pinaltinya menjadikannya sebagai seorang pujangga sepakbola yang melegenda.

*Tulisan ini Saya ambil dari E Magz Football Fandom yang artikelnya sendiri ditulis oleh  Arsyad M. Fajri*

No comments:

Post a Comment