Malam itu kota
Praha dua orang laki - laki berhadap - hadapan di Stadion FK Crvena Zvezda. Tak
kurang dari 30.000 pasang mata menatap mereka. Dua orang laki-laki itu adalah
Sepp Maier dan Antonin Panenk. Dua orang ini sedang mempertaruhkan nasib
negaranya, Jerman Barat da Cekoslovakia.
Sepp Maier yang
berdiri di bawah mistar gawang, menjadi tumpuan Jerman Barat untuk mencatat
rekor dalam sepak bola Eropa. Jerman Barat berstatus sebagai juara bertahan di
ajang Euro 1976. Pada penyelenggaraan sebelumnya tahun 1972 mereka keluar
sebagai pemenang. Jika mampu memngangkat trofi Henry Delauney sekali lagi, maka
Jerman Barat akan menjadi negara pertama yang mampu mejuarai Piala Eropa dua
edisi berturut-turut.

Antonin Panenka
berdiri di pinggir kotak pinalti. Ia menjadi penendang terakhir Cekoslovakia
dalam adu pinalti di partai puncak Piala Eropa 1976. Sebagai penendang
terakhir, Panenka mempunyai beban lebih, apalagi timnya dipaksa melewati babak
adu pinalti setelah Jerman Barat berhasil mengejar ketinggalan dua gol di waktu
normal. Namun ia sedikit diuntungkan dengan gagalnya Uli Hoeness menjalankan
tugasnya sebagai penendang pinalti Jerman Barat.
Panenka
mengambil ancang-ancang mundur ke belakang. Di titik putih si kulit bundar diam
menanti sepakan kakinya. Lawan duelnya malam itu, Sepp Maier memperhatikan tiap
langkah Panenka dengan seksama.
Wasit memberi
aba-aba untuk melakukan tendangan. Panenkan berlari masuk ke kotak pinalti. Ia
terlihat akan mengarahkan bola ke arah sisi kiri gawang Sepp Maier. Beberapa
saat sebelum kaki Panenka menyentuh bola, Sepp Maier melompat ke sisi kiri.
Berharap pria berkumis tebal tersebut mengarahkan bolanya ke arah sisi kiri
bawah.
Namun Panenka
memiliki ide sendiri. Ia tidak menendang bola dengan keras, tak juga
mengarahkannya ke pinggir gawang. Ia memilih untuk menyentuh bola dengan
punggung kakinya, mengarahkannya ke tengah gawang. Bola tendangan Panenka
melaju pelan. Sepp Maier yang terlanjur melompat ke arah kiri bawah hanya bisa
melihat bola bergerak parabolik melewaati garis gawang. Goooollll !!!
Panenka bersorak, rekan-rekannya menhampirinya. Malam itu Panenka mencatatkan
sejarah. Cekoslovakia untuk pertama kalinya menjadi juara eropa mengalahkan
sang juara bertahan Jerman Barat di partai final. Sebuah prestasi yang luar
biasa mengingat pada waktu itu Jerman Barat dianggap sebagai tim terbaik di
dunia. Juara Eropa sekaligus juara dunia.
Gol pinalti di
partai Final Euro 1976 ini dikenang sebagai salah satu momen bersejarah dalam
sepak bola eropa. Gol itu menandai lahirnya tedangan Panenka. Tendangan pinalti
yang memiliki daya magis mengecoh penjaga gawang. Tendangan pinalti yang
kemudian hari ditiru oleh pemain-pemain seperti Zinedine Zidane dan Andrea
Pirlo.

Momen tersebut
mengangkat nama Antonin Panenka, menjadikannya sebagai salah satu legenda
sepakbola eropa. Jika dibanding legenda eropa lainnya nama Antonin Panenka
memang relatif kurang terdengar. Ia menghabiskan sebagian besarnya karirnya di
klub Bohemians Prague, klub kota kelahirannya. Sistem transfer ketat yang
diberlakukan oleh pemerintah komunis
Cekoslovakia menuatnnya harus puas menghabiskan masa keemasannya di
Bohemians. Baru di usia 32 tahun Panenka memiliki kesempatan untuk mencoba
peruntungannya di luar negeri.
Berusia 32 tahun
dan tak pernah bermain di luar Cekoslovakia membuat Panenka harus puas bermain
di Austria, bersama Rapid Vienna. Di Rapid Vienna Panenka berhasil meraih dua
gelar Bundesliga Austria. Bersama klub ibu kota Austria ini pula Panenka
mencapai final Winners Cup 1985. Panenka sendiri
saat itu berada dalam puncak permainannya dan disebut sebagai salah satu
gelandang terbaik yang dimiliki Cekoslovakia. Ia memiliki passing akurat dan
mampu membaca permainan dengan baik. Teknik tendangan bebasnya pun dianggap
yang terbaik. Sayang, peraturan ketat pemerintah Cekoslovakia menghalanginya
mengadu nasib ke klub besar.

Banyak orang
yang menganggap pinalti Panenka adalah pinalti yang jenius. Seorang jurnalis
asal Perancispernah menyebut pinalti Panenka tersebut sebagai sebuah puisi
dengan Antanin Panenkan sebagai pujangganya. Penyebutan yang menarik jika kita
melihat proses dan kerja keras Panenka dalam menciptakan pinalti tersebut.
Sebagaimanan
layaknya puisi, pinalti Panenka pun lahir melalui proses kreatif dari penciptanya.
Proses kreatif yang bermula dari rasa frustasi di kamp Bohemians. Seusai sesi
latihan di markas Bohemians, Panenka biasanya melanjutkan dengan berlatih
tendangan pinalti bersama penjaga gawang Zdenek Hruska. Untuk membuatnyamenjadi
menarik mereka biasanya bertaruh dengan bir atau coklat untuk setiap tendangan.
Sayangnya Panenka lebih banyak mengalami kekalahan. Baginya Zdenek Hruska
terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Setiap sesi latihan ia harus rela kehilangan
sejumlah uang untuk setiap pinalti yang gagal. Panenka menjadi
susah tidur layaknya pujangga yang dirudung perasaan galau. Malam – malam ia
sering melamun dan memikirkan bagaimana caranya menaklukkan Hruska dalam sesi
latihan. Hingga ia menyadari bahwa setiap penjaga gawang selalu melakukan hal
yang sama. Penjaga gawang selalu menunggu hingga saat terakhir sebelum
penendang menyentuh bola. Hal ini memungkinkan penjaga gawang untuk
mengantisipasi lebih tepat.

Hal ini
menginspirasi Panenka untuk membuat sebuah eksperimen. Ia akan berpura-pura
menembakkan bola namun di saat terakhir ia hanya melambungkan bola ke tengah
dengan sentuhan ringan. Penjaga gawang yang menunggu sampai saat – saat
terakhir akan terlanjur melompat dan mati langkah. Eksperimen tersebut berhasil
di sesi latihan Bohemians. Ia tak lagi harus mentrakktir Hruska karena
kegagalanya menendang pinalti. Sebaliknya, gantian Hruskayang mentraktirnya
coklat dan bir.
Keberhasilan
eksperimen pinaltinya tak hanya disimpan dalam sesi latihan saja. Panenka
berniat mencobanya di ajang resmi. Awalnya ia mencoba pinalti tersebut di
beberapa laga persahabatan. Kemudian berlanjut ke liga Cekoslovakia. Hingga ia
bertekad akan mencoba tendangan pinalti tersebut jika ia mendapatkan kesempatan
di Euro.
Keputusan
Panenka terbukti tepat. Meski beresiko tinggi, namun pinaltinya berhasil
membawa Cekoslovakia keluar sebagai juara Eropa 1976. Hingga saat ini, orang
masih menganggumi keberanian Panenka melakukan pinalti tersebut. Untuk
mengambil tendangan pinalti di partai puncak saja tak semua pemain sanggup melakukannya,
apalagi jika menggunakan teknik baru. Keberanian
Panenka inilah yang menjadikannya legenda Eropa. Ia memang tak pernah bermain
di klub besar serperti Real Madrid atau Bayern Muenchen. Namun keberaniannya
menendang pinalti dengan teknik baru membuat namanya layak disejajarkan dengan
Franz Beckenbauer dab Michel Platini.
Kini tendangan
pinaltinya banyak diikuti, tak hanya pemain top Eropa yang mencoba teknik
pinaltinya. Anak – anak kecil di sudut kota Praha pun turut memperagakannya.
Antonin Panenka mungkin bukan pemain dengan jumlah trofi terbanyak pada
masanya. Namun tendangan pinaltinya menjadikannya sebagai seorang pujangga
sepakbola yang melegenda.
*Tulisan ini Saya ambil dari E Magz
Football Fandom yang artikelnya sendiri ditulis oleh Arsyad M. Fajri*
No comments:
Post a Comment