Berawal dari ketika Saya melihat tayangan di History Channel mengenai sosok Arthur Friedenrich, Saya tertarik untuk menulisnya disini. Mungkin banyak orang yang tidak mengenal siapa Arthur Friedenrich. Dari berbagai sumber yang saya peroleh akhirnya saya dapat menulis di blog Saya.
Arthur Friedenreich lahir di São Paulo pada 18 Juli 1892. Ayahnya Oscar Friedenrich yang berasal dari Jerman dan ibunya Mathilde yang keturunan Afrika-Brasil. Karirnya dimulai pada tahun 1909 ketika ia bergabung SC Germania, sebuah klub di Brasil yang bermaterikan imigran dari Jerman. Pada tahun 1912 bergabung dengan klub Mackenzie College. 16 gol Ia cetak untuk Mackenzie di kejuaraan Wilayah São Paulo, Hal itu membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak di musim 1912, dan menyebabkan Ia dipanggil untuk tim nasional.
Brazil melawan Argentina diajang tidak resmi. Dan Friedenreich mencetak satu gol Brasil, namun Brasil mengalami kekalahan 6-3. Ia pun mendapat julukan 'The Tiger'. Kemampuannya mengejutkan banyak orang dengan tubuh setinggi 178 cm. Selama lima tahun, Friedenreich berpindah klub di daerah São Paulo, termasuk Americano, Atlas, Paulista, Paysandu dan Paulistano. Ia juga membuat sejarah dengan Ypiranga, dia menjadi pencetak gol terbanyak liga di tahun 1914. Tahun itu juga, Ia menjalani debut resminya bersama tim nasional Brasil, dan Friedenreich bermain pertama kalinya pada saat pertandingan persahabatan melawan klub Inggris Exeter City. Ia menjadi pemain penting dari tim nasional Brasil, dan pada tahun 1916, Ia dipanggil Timnas Brasil untuk Coppa America yang pertama kali. Dalam turnamen yang diadakan di Argentina, Brasil melakukan dua pertandingan, yang pertama mereka melawan Chile dan negara tuan rumah (Argentina) dengan hasil seri, tapi masih memiliki kesempatan untuk menjadi juara jika mereka mampu mengalahkan Uruguay dalam pertandingan terakhir mereka. Friedenreich membuat Brasil memimpin terlebih dahulu, tetapi Uruguay memukul balik untuk menang 2-1 dan akhirnya Brasil gagal juara di turnamen tersebut.
Brazil melawan Argentina diajang tidak resmi. Dan Friedenreich mencetak satu gol Brasil, namun Brasil mengalami kekalahan 6-3. Ia pun mendapat julukan 'The Tiger'. Kemampuannya mengejutkan banyak orang dengan tubuh setinggi 178 cm. Selama lima tahun, Friedenreich berpindah klub di daerah São Paulo, termasuk Americano, Atlas, Paulista, Paysandu dan Paulistano. Ia juga membuat sejarah dengan Ypiranga, dia menjadi pencetak gol terbanyak liga di tahun 1914. Tahun itu juga, Ia menjalani debut resminya bersama tim nasional Brasil, dan Friedenreich bermain pertama kalinya pada saat pertandingan persahabatan melawan klub Inggris Exeter City. Ia menjadi pemain penting dari tim nasional Brasil, dan pada tahun 1916, Ia dipanggil Timnas Brasil untuk Coppa America yang pertama kali. Dalam turnamen yang diadakan di Argentina, Brasil melakukan dua pertandingan, yang pertama mereka melawan Chile dan negara tuan rumah (Argentina) dengan hasil seri, tapi masih memiliki kesempatan untuk menjadi juara jika mereka mampu mengalahkan Uruguay dalam pertandingan terakhir mereka. Friedenreich membuat Brasil memimpin terlebih dahulu, tetapi Uruguay memukul balik untuk menang 2-1 dan akhirnya Brasil gagal juara di turnamen tersebut.
Pada tahun 1917 Ia bermain untuk Paulistano dan merupakan awal dari karier yang luar biasa, Ia berhasil menjadi pencetak terbanyak di Liga Sao Paolo. Friedenreich menduduki puncak pencetak gol terbanyak di Liga São Paulo empat kali antara 1917 dan 1921. Ia berada di Paulistano sampai 1929, Ia berhasil meraih tujuh gelar kejuaran Liga Brasil (Pada saat itu di Brazil ada dua Liga jadi Paulistano berbagi juara dengan klub lain). Ia berhasil membawa Paulistano menjadi tim Brasil pertama yang tur Eropa, dan 11 golnya dalam delapan pertandingan menyebabkan Ia menjadi bintang sepak bola kelas dunia. Friedenreich juga mendapat kesempatan kedua untuk bermain di Coppa America, di Brasil pada tahun 1919. Hattricknya melengkapi kemenangan 6-0 dalam pertandingan pembukaan atas Chile, dan membantu Brasil memuncaki klasmen bersama dengan Uruguay, hal ini membuat juara harus ditentukan melalui play-off. Dan pertandingan menjadi pertandingan terlama dalam sejarah kejuaraan tersebut, pertandingan tersebut membutuhkan empat periode tambahan waktu 15 menit, sebelum Friedenreich meraih sukses untuk Brasil dengan gol di menit 122, dan mengantarkan Brazil menjadi juara untuk pertama kalinya dan Ia sendiri menjadi pencetak gol terbanyak dengan empat golnya. Dia tidak dipanggil Timnas Brasil pada Coppa America 1921, diduga karena pemerintah tidak ingin pemain kulit hitam untuk ikut serta. Protes atas perlakuan terhadapnya menjadi titik balik dalam usaha mengakhiri diskriminasi rasial dalam sepak bola Amerika Selatan. Pada tahun 1922 dan 1925, Friedenreich kembali ikut ambil bagian di dua Coppa America.
Pada tahun 1922, Brasil berhasil merebut gelar, tetapi Friedenreich tidak mencetak gol dalam turnamen ini, bahkan Ia tidak bermain di final. Pada tahun 1925, Ia bermain dalam pertandingan menentukan melawan Argentina. Dan Friedenreich membuka gol saat Brasil melanjutkan untuk memimpin 2-0 pada akhir babak pertama. Argentina berhasil meyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan akhirnya Argentina keluar sebagai Juara untuk kedua kalinya. Meskipun telah berusia 30 tahun, Friedenreich masih menjadi pencetak gol yang produktif klub dan menjadi pencetak gol terbanyak di liga Wilayah São Paulo pada tahun1927 dan 1929. Pada tahun 1930, untuk pertama kalinya Piala Dunia diadakan, meskipun Friedenreich berusia hampir 38 th, dia masih dianggap sebagai calon kuat untuk dipanggil masuk tim nasional Brasil. Namun, Faktanya Ia tidak dipanggil masuk timnas Brasil hal ini menimbulkan kontroversi di Brasil. Beberapa orang menyatakan bahwa Federasi Sepakbola Brasil lebih menyukai pemain yang berasal dari daerah Rio daripada pemain dari daerah São Paulo. Penampilan terakhir internasionalnya terjadi pada saat Brasil menang 3-2 atas Prancis tak lama setelah berakhirnya Piala Dunia 1930, tapi untuk tingkat klub karirnya belum berakhir.
Pada tahun 1922, Brasil berhasil merebut gelar, tetapi Friedenreich tidak mencetak gol dalam turnamen ini, bahkan Ia tidak bermain di final. Pada tahun 1925, Ia bermain dalam pertandingan menentukan melawan Argentina. Dan Friedenreich membuka gol saat Brasil melanjutkan untuk memimpin 2-0 pada akhir babak pertama. Argentina berhasil meyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan akhirnya Argentina keluar sebagai Juara untuk kedua kalinya. Meskipun telah berusia 30 tahun, Friedenreich masih menjadi pencetak gol yang produktif klub dan menjadi pencetak gol terbanyak di liga Wilayah São Paulo pada tahun1927 dan 1929. Pada tahun 1930, untuk pertama kalinya Piala Dunia diadakan, meskipun Friedenreich berusia hampir 38 th, dia masih dianggap sebagai calon kuat untuk dipanggil masuk tim nasional Brasil. Namun, Faktanya Ia tidak dipanggil masuk timnas Brasil hal ini menimbulkan kontroversi di Brasil. Beberapa orang menyatakan bahwa Federasi Sepakbola Brasil lebih menyukai pemain yang berasal dari daerah Rio daripada pemain dari daerah São Paulo. Penampilan terakhir internasionalnya terjadi pada saat Brasil menang 3-2 atas Prancis tak lama setelah berakhirnya Piala Dunia 1930, tapi untuk tingkat klub karirnya belum berakhir.
Sebagian besar karirnya dihabiskan dengan bermain bagi São Paulo FC. Antara 1930 dan 1935 Ia telah mencetak 106 gol untuk klub dalam 127 penampilan dan ikut membantu memenangkan gelar liga, dia hanya kehilangan satu pertandingan di musim 1931. Karir Friedenreich berakhir setelah musim 1935, dimana saat itu Ia berusia 43 tahun. Ada banyak pendapat tentang berapa banyak gol yang dicetak selama kariernya, dimana tidak ada catatan yang akurat mengenai hal itu. Banyak sumber mengatakan bahwa Ia telah mencetak gol lebih dari 1.000, dan ada yang mengatakan bahwa ia telah mencetak 1.329 gol. Beberapa sumber menyatakan bahwa Ia adalah pencetak gol tertinggi dalam sejarah sepakbola, dan yang lain memberinya tempat kedua setelah Pele.
Setelah menderita penyakit Alzheimer, Friedenreich meninggal pada September 1969, pada usia 77. Kontribusinya kepada sepakbola sebanding dengan jumlah gol yang Ia cetak. Dia tercatat sebagai pemain pertama yang mencetak lebih dari 1000 gol, Ia juga telah menemukan tekhnik skill bermain bola yang akan terus berkembang sampai sekarang. Dan Yang paling penting, karirnya membuka jalan bagi generasi masa depan pemain kulit hitam di Brasil, dan membantu untuk memecahkan masalah rasialisme di Brasil dan seluruh dunia.
No comments:
Post a Comment