Ketika datang ke Real Madrid setelah
mengasuh Inter Milan dan Chelsea, Jose Mourinho sadar di mana dia berada.
Bersama klub Spanyol itu,dia tidak serta merta mengaplikasikan strategi yang
terbukti sukses bersama Chelsea di Inggris dan Inter di Italia.
Mourinho tahu artinya adaptasi.”Aspek kultur dalam sepak bola sangat
penting,”tutur Mourinho dalam wawancara dengan El Pais. ”Tidak mungkin bagi
seorang pelatih datang ke sebuah negara, lantas berkata,’ini sistem saya,mari
bermain sesuai filosofi saya’,”imbuh Mourinho. Seperti kata Mourinho, begitulah
seharusnya sepak bola dimainkan. Tidak sekadar berlari dan menendang bola, tapi
harus ada kultur yang mengakar kuat. Ketika turun di lapangan, pemain sudah tahu
harus melakukan apa. Taktik dan strategi sudah tertempel alamiah dalam otak dan
kaki.
Gianluca Vialli dan Gabriele Marcotti dalam bukunya The Italian Job,punya
analogi menarik soal kultur sepak bola Italia dan Inggris. Analoginya pada
petinju amatir yang akan menekuni jalur profesional. Petinju A, selalu
agresif. Di atas ring bukan sekadar menahan pukulan lawan, tapi selalu menyerbu
ke mana pun lawan bergerak. Dia fighter sejati.Sarung tangan selalu melebar,
siap melepaskan pukulan setiap saat. Petinju B, tampak lebih sering menggunakan
sarung tinju untuk menutup muka.
Dia berusaha memastikan,bagian tubuh yang menjadi sasaran selalu tertutup. Dia
lebih sabar, tidak tergesa-gesa ingin menang. Dia sadar, masih punya energi besar
yang bakal menjadi pukulan mematikan ketika lawan lengah. Dia punya killing
punch. Petinju A, tidak pernah punya rasa takut. Sejauh dia sudah memberi yang
terbaik, baginya kalah bukan masalah. Petinju B, selalu tegang setiap jelang
laga. Dia takut kalah. Baginya, tinju untuk bertahan hidup.
Dari berbagai rincian tersebut,mudah diketahui jika petinju A mewakili kultur
sepak bola Inggris dan petinju B mewakili Italia. Aspek paling penting dari
kultur sepak bola Italia dan Inggris bisa digambarkan dalam satu kalimat,”Bagi
Italia, sepak bola adalah pekerjaan (job). Bagi Inggris, sepak bola adalah
permainan (game).” Jika sepak bola adalah pekerjaan, muara yang ingin dituju
adalah menang, tidak peduli bagaimana caranya. Sebaliknya, jika sepak bola sebagai
permainan, tujuannya adalah bertarung, berusaha keras, memberikan 100% kemampuan
di lapangan hijau.
”Di Italia, jika seorang striker berharga 5 juta euro hanya mencetak satu gol
sepanjang musim, dia akan dianggap sampah. Di Inggris, orang akan memaafkannya
sepanjang menunjukkan komitmen dan respek terhadap permainan,”kata
Mourinho, pelatih yang punya pengalaman sukses di Italia dan Inggris. Itulah
kultur. Tiap negara, tiap benua, beda kultur sepak bolanya. Kultur yang kuat pula
yang menjadi basis sukses. Membangun kultur yang kuat,sangat menguntungkan dalam
pembentukan brand sepak bola. Ambil contoh Brasil.
Tekanan pada kemampuan individu pemain masih menjadi bagian penting sepak bola
Negeri Samba. Bagian latihan krusial bagi pembinaan usia dini di Brasil adalah
kemampuan individu dan perubahan ritme bermain seperti irama musik.”Di
Brasil, Anda tidak hanya harus bermain bola, Anda harus bergoyang,”kata Robinho.
Di Indonesia sebenarnya bukan tanpa kultur sepak bola. Dulu,kita mengenal sepak
bola raprap ala PSMS Medan. Raprap yakni sepak bola dengan karakter keras, cepat,
dan ngotot. Namun, semuanya masih dalam koridor sportivitas.
Dulu, ketika Henk Wullems melatih timnas yang mengandalkan pemain-pemain
Primavera, kultur corto stretto (pendek merapat) begitu menggejala. Pola 3-5-2
dimainkan di mana-mana, seakan akan itulah sepak bola Indonesia. Namun, seiring
waktu berjalan, pelatih asing maupun pemain asing masuk silih berganti. Di
antara mereka, tidak ada satu pun yang mampu memakukan sukses secara gilang
gemilang.
Akibatnya,tidak ada kultur sepak bola yang terpatri kuat di tim-tim
Indonesia, baik klub maupun tim nasional. Malah sekarang bukan kultur main
bolanya yang bertahan, tapi kultur berantem yang menonjol. Baku pukul antarpemain
tidak saja di dalam lapangan,bisa juga terjadi di dalam hotel! Ironis.●
No comments:
Post a Comment