Saturday, 25 May 2013

Sir Alex dan Manajemen Kehidupan

Kemarin Saya membaca sebuah artikel menarik tentang Sir Alex Ferguson, pelatih yang memutuskan pensiun di akhir musim 2013 ini adalah merupakan salah satu pelatih terbaik dan tersukses dalam jagad sepak bola dunia. Artikel itu ditulis pada tanggal 9 Mei 2013 oleh Yudie Oktav Wartawan olahraga, pernah meliput World Cup 2002, Euro 2004, final Liga Champions 2006 dan 2007, final FA Cup 2007, Communiy Shield, serta berbagai event olahraga dan pertandingan di liga-liga top dunia. Dan Saya memutuskan untuk menambahkannya ke dalam Blog Saya ini sebagai koleksi sekaligus referensi bagi semuannya khususnya saya. 

SELAMAT MENIKMATI....


Fakta sederhana dalam setiap tahap kehidupan adalah selalu ada pengingat dari orang-orang yang membantu, membimbing, dan mencintai Anda. Sebagai kalimat pertama dalam buku Managing My Life, My Autobiografi, Sir Alexander Chapman Ferguson membuka catatan biografi dengan mengingatkan bahwa hidup tidak bisa lepas dari orang-orang dekat yang turut mewarnai perjalanan detik demi detik.


Alex beruntung dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sangat mencintainya dan saling mendukung dalam mendidik dirinya dan sang adik, Martin. Masa kecil Alex juga dipengaruhi oleh pasangan adik ayah, Isobel, dan suaminya Sony. Alex dan Martin bahkan merasa banyak berutang kepada Sony. Sang paman merupakan seorang guru dan semasa sekolah ia mengajari secara privat di waktu luang untuk meningkatkan mengasah kercerdasan Alex dan Martin.

Pada 1995, Alex Ferguson bersama istrinya, Cathy, pergi ke Kanada untuk mengunjungi Isobel dan Sony, yang saat itu tinggal di sana, karena Alex merasa saat ditelepon pamannya terdengar tidak dalam kondisi sehat. Tidak ada alasan bagi Alex untuk tidak segera mengunjungi sang paman. Dalam kunjungannya itu Alex sempat meminta izin kepada Sony untuk memuat puisi Sony dalam buku biografinya. Puisi tersebut dibuat saat Liz, ibunya Alex meninggal:


Tumbuh di tahun 30-an sungguh memilukan.
Ketika uang langka dan kebanyakan orang sedih. 
Semasa hari-hari gelap penuh putus asa, 
Liz selalu mememukan waktu untuk menolong dan peduli.


Hitung semua anugerahmu, Liz selalu berkata demikian. 
Tambahkan semua di penghujung hari. 

Tidak masalah jika hanya dapat satu atau dua. 
Ingat banyak orang yang lebih tidak beruntung.


Aku masih bisa melihat Liz secara jelas di mata batinku. 
Karena kenangan-kenangan indah bersamanya tidak pernah mati. 
Untuk itu aku bersyukur kepada Tuhan untuk segala yang pernah terjadi. 
Untuk bertemu dan mengenal orang seperti dia.


Rangkaian kata yang dibuat Sony menggambarkan bagaimana kepribadian Liz yang begitu tegar, penuh perjuangan, tak kenal putus asa, dan menjadi inpirasi bagi orang-orang sekitar, dan tentunya termasuk untuk Alex. Ia pantas bersyukur lahir pada 31 Desember 1941 di Glasgow, Skotlandia, dari seorang Liz dan Alex mengakui kepribadia kuatnya karena didikan dari orang tuanya

Alex dikenal sebagai sosok tegar, tegas, bahkan terkadang dianggap arogan hingga diktator karena ketegasannya, penuh perjuangan, tak kenal menyerah apalagi putus asa. Alex adalah inspirator bagi keluarga dan klub Manchester United, baik pemain junior maupun senior hingga pengurus klub, tetapi Alex mengakui bahwa setelah dewasa kehidupannya banyak dipegaruhi oleh Cathy dan kehadiran ketiga anaknya yakni Mark dan anak kembar, Darren dan Jason. Mereka menjadi bagian terdekat dari rahasia Alex untuk menjadi manajer tersukses di sejarah sepak bola Inggris.

Setelah 27 tahun menangani Manchester United, Alex menyatakan akan mengundurkan diri di akhir musim 2012/13. Di usia 71 tahun, Alex meyakini sudah saatnya pensiun setelah memberikan 39 gelar bergengsi untuk United termasuk yang masih hangat, juara Premier League 2012/13. Total 49 gelar diraih Alex termasuk saat menangani dua klub Skotlandia, St. Mirren dan Aberdeen.

Alex memulai karier sebagai manajer United pada 1986. Masa sangat sulit dihadapi pada beberapa tahun awal bersama The Red Devils. Di tahun pertama bersama Alex, United terpuruk di posisi ke-11. Padahal musim sebelumnya United masih mampu berada di posisi ke-4. Memasuki tahun kedua, Alex berhasil membawa United menjadi runner-up, tapi setahun kemudian terjatuh lagi ke posisi ke-11. Musim 1989/90 menjadi masa terburuk Alex di United. Hampir degradasi, tersendat di posisi ke-13 dan hanya berbeda lima poin dari zona dergadasi. Fergie tertolong oleh gelar juara pertama bersama United dari ajang FA Cup pada musim itu.

Di masa-masa itu, Fergie bahkan hampir sempat dipecat, tapi keteguhan dan kepercayaan yang diberikan manajemen United dibayar Fergie dengan 38 gelar juara. Masa jaya Alex diawali saat memasuki era Premier League pada 1992/93. United juara di tahun pertama Premier League dan tidak bisa dibendung sejak itu. Total 13 gelar juara dipersembahkan Fergie dari liga, yang membuat United kini tercatat sebagai klub paling banyak juara di Liga Inggris yakni 20 kali, ditambah lima gelar dari FA Cup, empat League Cup, 10 Charity/Community Shield, dua Champions League, serta masing-masing satu gelar dari European Cup Winners’ Cup, European Super Cup, Intercontinental Cup, dan FIFA Club World Cup.

Belum lagi berbagai gelar pribadi yang diberikan kepada Fergie termasuk Commander of the Order of the British Empire (CBE) pada 1995 dan Knight Bachelor (Kt.) pada 1999 dari Kerajaan Inggris yang membuatnya layak dipanggil Sir Alex Ferguson.

Seiring dengan berbagai gelar yang dihasilkan, Fergie melahirkan banyak bintang sepak bola yang namanya benar-benar mendunia saat membela Unted seperti Bryan Robson, Mark Hughes, Brian McClair, Eric Cantona, Peter Schmeichel, David Beckham, Ryan Giggs, Gary Neville, Paul Scholes, Nicky Butt, Ole Gunnar Solskjaer, Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, dll.

Namun, Fergie juga tidak lepas dari kontroversi. Dalam otobiografinya, Fergie menyinggung Gordon Strachan dengan kalimat: “Saya memutuskan untuk tidak lagi mempercai orang ini.” Strachan yang sebetulnya sudah dipakai Fergie sejak menangani Aberdeen dan juga membela United pada 1984-1989, membalas di buku biografinya My Life in Football dengan menyebut dia pun sulit berhubungan dengan Fergie meski saat mereka sama-sama menjadi manajer sekali pun.

Tragedi sepatu bola tendangan Fergie yang mendarat di kepala David Beckham saat ketegangan di kamar ganti menjadi pemicu kepergian Beckham hengkang ke Real Madrid pada 2003. Pada tahun itu Fergie juga didenda UEFA saat menyebut undian Liga Champions diatur untuk klub-klub Italia dan Spanyol.

Pada 2003 itu Fergie juga mengajukan tuntutan hukum kepada pemilik saham United, John Magnier, menyangkut kepemilikan kuda balap Rock of Gibraltar. Magnier dan partner bisnisnya JP McManus yang saat itu memiliki saham 25,49% di Old Trafford membalas menyeranag Fergie dengan 99 pertanyaan ke manajemen United menyangkut keuangan dan 13 proses transfer kontroversial yang melibatkan Jaap Stam, Juan Veron, Tim Howard, David Bellion, Cristiano Ronaldo, dan Kleberson. Sir Alex kala itu mendapat dukungan dari para pemain yang dipimpin oleh Gary Neville bersama Roy Keane dan Ryan Giggs.

Perseteruan dan mind games dengan manajer-menajer seteru United sepert Arsene Wenger, Jose Mourinho, Kevin Keegan, dan Rafael Benitez juga kerap memanaskan Premier League. Meski terkadang terkesan emosional, tapi Fergie sangat piawai memainkan peran dalam mind games sehingga ujungnya mempengaruhi hasil di lapangan.

Perseteruan panjang hingga tujuh tahun terjadi antara Sir Alex dengan media BBC. Ferguson selalu menolak diwawancara setelah BBC menayangkan liputan Father and Son dalam programPanorama pada 2004 yang mengungkapkan permainan agen pemain, Jason, yang juga anaknya. Ferguson menyebut omong kosong untuk acara liputan tersebut. Setelah itu, Fergie menyebutBBC sabagai ‘arogan di atas keyakinannya, tidak mampu untuk meminta maaf’ dan setelah itu Alex tidak pernah mau diwawancara oleh BBC. Ia pun selalu mengirim asistennya, Carlos Queiroz dan kemudian Mike Phelan ke Match of The Day, acara sepak bola bergengsi di Inggris yang sudah ditayangkan sejak 1964.

Melalui peraturan Premiership 2010/11, Ferguson diminta untuk menghentikan boikot kepadaBBC, tetapi ia menolaknya dan pihak klub Man. United pun lebih bersedia membayarkan denda dari peraturan tersebut hingga 60.000 pound atau sekitar 900 juta untuk semusim. Pada 25 Agustus 2011, Fergie bertemu dengan direktur BBC, Mark Thomson, dan Peter Salmon, dengan hasil poistif yakni Fergie setuju untuk menghentikan boikot selama tujuh tahun.

Di balik itu, Fergie menunjukkan integritas sebagai pembela nama baik keluarga. Ia pun sempat menarik tiga pemain Ritchie De Laet, Joshua King, dan Matty James saat dipinjamkan ke Preston North End, menyusul pemecatan yang dilakukan pihak klub terhadap Darren, anak Fergie yang memang berprofesi sebagai pelatih. Ia menjelaskan bahwa penarikan tersebut tidak ada hubungannya dengan pemecatan Darren, tapi publik menilai berbeda karena dilakukan hanya bebera saat setelah pemecatan.

Namun, berbagai kontroversi tersebut terasa tak ada apa-apanya jika dibanding dengan kesuksesan Fergie yang sangat fenomenal. Tak ada yang bisa menyangkal kehebatan dan nama besar Fergie. Kawan maupun lawan rsangat espek kepadanya. Saya pun bukan pendukung United, tetapi sangat  mengagumi bagaimana Fergie membentuk United bukan hanya sebagai sebuah tim, tetapi menjadi salah satu klub terbesar di dunia.

Itulah cara Fergie maenjalankan manajemen hidup sebagai seorang suami, ayah, dan manajer. Ia akan menghadapi dan melawan siapa pun demi menancapkan harga diri dan kesuksesan, apa pun risikonya. Sebaliknya ia tak sungkan untuk  menghargai dan berterima kasih kepada orang-orang yang turut memberi kontribusi pada perjalanan hidupnya.

Fergie harus membayar kesetiaan keluargnya, atas cinta dan dukungan yang paling mendasar selama ini. Istrinya, Cathy, merupakan figur yang paling mempengarui kariernya, yang selalu memberikan dukungan dan keseimbangan. Fergie menyebut kata-kata tidak cukup untuk mengekspresikan betapa berartinya Cathy untuknya.

Fergie juga mengucapkan terima kasih kepada para pemain dan staff, dari masa lalu dan sekarang, untuk profesionalisme dan dedikasi yang telah membantu untuk memberikan begitu banyak kemenangan mengesankan. Tak lupa Sir Alex mengucapkan terima kasih kepada Sir Bobby Charlton yang sejak tahun-tahun awal selalu mendukungnya, memberikan kepercayaan diri dan waktu untuk membangun United.

Selanjutnya siapa yang akan menggantikan Sir Alex? Banyak nama bermunculan, tapi yang paling santer adalah David Moyes yang sudah tidak memperpanjang kontrak di Everton, meski nama Jose Mourinho lebih banyak dipilih publik untuk menangani United. Ada pula nama Juergen Klopp, Jupp Heynckes, Ryan Giggs, Gary Neville, hingga Laurent Blanc yang muncul sebagai kandidat. Akan tetapi, sebelum menentukan penggantinya, kubu United dan pendukunngya pantas untuk memberikan penghormatan terlebih dulu kepada Fergie saat pertandingan terkahir melawan West Brom pada 19 Mei.


Terima kasih, Fergie!

No comments:

Post a Comment